Studi kasus : Siasat 7Eleven Masuk kepasar Indonesia



SEMINAR MANAJEMEN PEMASARAN

“Siasat 7Eleven Masuk kepasar Indonesia”










Di susun oleh:

Risvan Aripin (01091001079)



UNIVERSITAS NEGRI SRIWIJAYA

FAKULTAS EKONOMI

Jurusan Manajemen

Mei 2012







SIASAT KUDA HITAM


Tahun lalu pasar Indonesia memunculkan banyak kejutan. Beberapa merek yang selama itu tidak diperhitungkan, tiba-tiba menyeruak diantara naga-naga yang sengit bertarung. Siapa saja mereka? Bagaimana siasat mereka?



Sejak dibawa masuk ke Indonesia oleh PT Modern Putra Indonesia (grup Modern distributor Fuji Indonesia) pada 2009, 7-Eleven membangun keunikan sebagai community store yang menarget anak muda ibukota. USP mereka sebagai penyedia kenyamanan, tempat nongkrong dan sosialisasi, community store, sangat pas dengan karakter konsumen Jakarta yang haus pertemuan.

7-Eleven Indonesia memang mampu menyedot kehadiran pelanggan dari golongan komunitas orang muda, serta karyawan yang butuh makan siang atau tempat nongkrong sepulang kerja. Seperti pernah diungkapkan oleh Wiwiek Yusuf, Direktur Pemasaran, sejak dibawa masuk ke Indonesia oleh PT Modern Putra Indonesia (grup Modern distributor Fuji Indonesia) pada 2009, 7-Eleven sebagai community store dipandang sangat cocok untuk langsung menarget masyarakat ibukota, terutama anak muda. Unique Selling Proposition (USP) mereka adalah penyedia kenyamanan, tempat nongkrong dan sosialisasi, community store.

Sebuah survei yang dilakukan Vibiz Management Research terhadap enam gerai 7-Eleven memberikan data menarik sebagai berikut. Sekitar 65% pengunjung 7-Eleven adalah anak muda, sisanya pelajar (15%), karyawan (10%), dan keluarga 10%. Sebagian besar di antara mereka datang tidak sendirian, tapi bersama teman atau rombongan.

Dalam pengamatan lebih lanjut, habit pengunjung biasanya mengobrol santai (nongkrong). Sekitar 80% di antaranya bahkan nongkrong lebih dari satu jam, 15% lainnya memanfaatkan untuk short meeting dan 5% lainnya membeli makanan untuk dibawa pulang. Ada juga di antara mereka yang sibuk sendiri dengan netbook, memanfaatkan fasilitas free wifi yang disediakan.


Sejumlah pengunjung yang di-interview mengaku mereka menyukai 7-Eleven karena kenyamanan dan kebebasannya. Nilai lebih lain yang disebut adalah ruang yang terang dan bersih, display barang yang menarik, konsep self sevice, inovasi menarik, pelayan ramah dan helpful, serta kemerdekaan untuk nongkrong kapan saja dan selama apapun tanpa diusir satpam atau ditunggu antrian. Mereka juga menyukai konsep gerai yang smoking area dan disediakannya wifi gratis. Juga harga yang terjangkau dibandingkan kedai kopi semacam Starbuck.

Hal lain yang disukai adalah konsep meracik minuman serta mengambil serta memilih sendiri sesuai dengan selera masing-masing. Sajian favorit mereka antara lain Slurpee, minuman bersoda setengah beku yang dijual pada suhu 28 derajat Celsius, minuman soda Big Gulp, dan Big Bite Hotdog. Namun dari 6 gerai itu, berbeda-beda pula selera pengunjungnya sehingga produk andalan masing-masing juga berbeda.

Berdasarkan pengamatan, rata-rata jumlah pengunjung pada keenam gerai itu berkisar antara 600-800 orang pada hari biasa dan bisa mencapai 1000 orang pada akhir pekan. Yang menarik, Tim riset mengamati 7-Eleven tidak banyak melakukan promosi dan publikasi. Promosi gratis justru didapatkan melalui proses word of mouth yang dilakukan oleh pengunjungnya. Pada akhirnya, tim riset mengambil kesimpulan, keberhasilan 7-Eleven adalah karena mereka mampu menjawab kebutuhan anak muda akan gaya hidup modern ala barat yang identik dengan kebebasan memilih dan berkreasi. Dengan kata lain, ia berhasil membaca kebutuhan konsumen terhadap tempat hang out. Karena itu komunikasi yang mereka lakukan pun melalui social media, kanal yang digunakan anak muda urban. Twitter @7ElevenID saat ini memiliki lebih dari 50 ribu follower. Sedangkan page Facebook 7-Eleven Id disukai oleh sekitar 42 ribu fans.

Fenomena ini seakan mengukuhkan pendapat bahwa sejatinya pasar yang jenuh pada dasarnya hanyalah mitos. Disini fenomena perkembangan 7-Eleven dalam tiga tahun ada 57 gerai dan hanya di Jakarta – seakan membuktikan itu. Ini juga membuktikan bahwa munculnya kuda hitam selalu saja ada. Menurut Rudolf Tjandra, Direktur Marketing PT Softex, sampai kapan pun, bahaya kuda hitam memang sangat besar. “Tidak hanya tahun 2012, di tahun-tahun sebelumnya ataupun tahun-tahun mendatang, kuda hitam pasti akan terus mengintai”.

Sumber : edhyaruman.blogspot.com,diposting pada selasa, 20 maret 2012 dan di akses pada 9 mei 2012



ANALISIS DAN PEMBAHASAN




Pada laporan keuangan 2010[1], penjualan PT Modern Internasional Tbk, induk perusahaan PT Modern Putra Indonesia yang dulunya pemegang merek Fuji Film, mencapai Rp733 miliar. Sepuluh persen di antaranya berasal dari gerai 7-Eleven. Pada akhir 2010, jumlah outlet mencapai 21 outlet dan saat ini sudah mencapai 41 outlet. Bagaimana perusahaan asing ini dapat merebut hati masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda. Apa strategi pemasaran 7-Eleven di Indonesia?. Berikut ini akan saya analisis mengenai strategi pemasaran 7-Eleven berdasarkan kajian teori pemasaran yang sudah di pelajari.

Pembahasan disini adalah mengacu pada teori STP (Segmentasi,Targeting, Positioning), Deferensiasi, Dan Marketing MIX (Produk,Harga, Distribusi, Promosi,)


A. Analisis STP
1. Segmentasi

Berdasarkan data diatas, data terbaru penduduk Indonesia menunjukkan lebih besar pada usia antara 17-34 tahun. Kejelian 7 Eleven dalam melihat peluang ini adalah dengan membidik segmen pasar dari segi demografis adalah membidik kalangan masyarakat berusia muda. Seperti kita ketahui nongkrong di kafe atau restoran siap saji usai bubaran sekolah, kuliah atau pulang kerja, belakangan ini merupakan tren gaya hidup remaja dan eksekutif.

2. Targeting

Target konsumen yang di bidik oleh 7Eleven disini sangatlah sesuai dengan segmen pasar yang di pilih yaitu adalah anak muda, pelajar, karyawan, dan keluarga.di mana Sebagian besar di antara mereka datang tidak sendirian, tapi bersama teman atau rombongan.

3. Positioning

Positioning mereka adalah penyedia tempat nongkrong ,sosialisasi dan community store yang mengutamakan kenyamanan. Tampaknya positioning ini cukup efektif di komunikasikan sebagai keunggulan 7 Eleven yang berbeda di banding tempat nongkrong yang lain seperti J-co dan Starbuck. konsep ruang yang terang dan bersih, display barang yang menarik, konsep self sevice, inovasi menarik, pelayan ramah dan helpful, serta kemerdekaan untuk nongkrong kapan saja dan selama apapun tanpa diusir satpam atau ditunggu antrian menjadi alasan utama konsumen datang ke 7 Eleven.


B. Analisis Marketing MIX

1. Produk


Selain menjual aneka produk konsumer good, 7-Eleven juga menjual produk-produk andalannya. Produk yang ditawarkan adalah produk-produk yang diminati masyarakat Jakarta, seperti Slurpee, Gulp, Big Gulp, Big Bite, Hot Dog, Rice Bowl, Katsu, Spaghetti, Fetuccini, dan bakery yang merupakan makanan siap saji segar. Menu-menu di atas adalah menu makanan cepat saji yang diminati pelanggan dan Hal inilah yang membuat outlet tersebut menjadi berbeda dengan para pesaingnya,
Perbedaan yang yang dapat di deferensiasikan dengan kuat adalah dimana konsumen yang berkunjung dapat dengan bebas meracik sendiri komposisi makanan yang akan di belinya.

2. Harga

Harga produk di 7-Eleven dijual dengan harga terjangkau, fresh, segar, dan tersedia setiap saat. Hal ini dinilai telah sesuai dengan pasar sasarannya yang didominasi kaum muda yang belum mempunyai penghasilan tinggi, waralaba ini mematok harga yang cukup terjangkau.

3. Distribusi
Pemilihan tempat bagi gerai 7 Eleven adalah membuka gerai di daerah pemukiman yang strategis Dengan outlet yang standar opearasi yang relatif sama di beberapa tempat. Bila melihat keadaan di jalanan kota-kota besar yang sering kali macet ada baiknya jikan 7 Eleven membuat gerai di pinggir jalan yang mudah terlihat agar pengendara yang sehabis pulang kerja dapat singgah sambil menunggu kemacetan pada jam-jam sibuk terurai.

4. Promosi
Walaupun 7-Eleven tidak pernah beriklan di televisi, media elektronik, maupun media cetak, Namun merek 7-Eleven yang kini sudah tak asing lagi. Hal ini di karenakan manajemen berhasil memberikan sebuah pengalaman yang berkesan bagi para pengunjungnya. Misalnya, bila ke 7Eleven Anda akan disuguhi keju cair secara cuma-cuma dengan begitu maka akan terciptalah Word Of Mouth yang baik. Presiden Direktur PT Modern Putra Indonesia, Henri Honoris mengatakan bahwa perusahaan hanya memanfaatkan media sosial, seperti Facebook dan Twitter untuk promosi. 7-Eleven mempunyai lebih dari 42 ribu follower dan juga lebih dari delapan ribu fans di Facebook yang bisa diajak komunikasi dengan baik.

Selain memamfaatkan situs jejaring social, 7 Eleven juga harus memanfaatkan jaringan media untuk mempromosikan bisnisnya kepada masyarakat. Terutama Televisi,karena sangat sulit untuk menjadi produk yang di kenal nasional tanpa beriklan di Televisi.



KESIMPULAN


Berdasarkan hasil analisis terhadap kasus pemasaran 7 Eleven maka dapat di simpulkan bahwa kunci utama dalam keberhasilan 7 eleven dalam usahanya memenangkan persaingan adalah pengetahuan yang kuat tentang pasar yang dilayani. Disini, pengelola merek harus memahami prilaku konsumennya maupun prilaku dan strategi yang dijalankan oleh para pemain yang ada.



[1] www.mitrapromosi.com. di posting  1 Oct 2011 dan diakses pada 9 mei 2012.

0 komentar:

Poskan Komentar